Thursday, November 5, 2009

Hidup Itu Singkat


Semua orang tahu hidup itu singkat. Namun berapa banyak yang boleh kita hargai atau menyayangi hidup dan menjalani hidup kita dengan baik?. Setiap yang hidup pasti akan mati, mereka kerap merasa menyesal terhadap apa yang dilakukan sepanjang hidupnya. Ada di antara kita merasa diri ini hidup sia-sia dan seandainya dapat kita kembali membuka lembaran baru, sudah pasti kita ingin menjalani hidup yang berbeza sama sekali. Namun kini segalanya sudah terlambat, malaikat pencabut nyawa sedang mengetuk pintu, waktu yang tinggal amatlah sedikit, tiba-tiba kita baru sedari bahawa diri ini masih belum pernah hidup.

Kerana itu, ketika orang-orang berkata takut mati, sebenarnya yang benar-benar ditakuti adalah, diri sendiri kerana dia belum pernah untuk hidup dengan sesungguhnya sepertimana yang telah diajar di dalam Islam. Setiap masa ada sahaja orang yang akan meninggal dunia dan kita pasti akan merasa sedih. Namun, pernahkah kita renungkan apakah kita sedih kerana orang yang meninggal itu atau kita sedih untuk diri sendiri?. Sesungguhnya, besar kemungkinan kita akan sedih untuk diri kita sendiri, sebab setiap kematian akan membuat kita menyedari bahawa kita juga akan mati. Bagi kita, kematian itu amat meresahkan dan menakutkan, sebab kita sebenarnya belum pernah untuk hidup sebagaimana yang dituntut di dalam Islam. Kita juga sering leka dan membuang waktu.

Setiap malam minggu, ada di antara kita merasa hairan kenapa seminggu ini masa berlalu dengan pantas. Setiap tiba tahun baru, kita merasakan sungguh cepat masa berlalu, sedar tak sedar sudah setahun. Pergi mendaki gunung, baru kita sedar tenaga dan stamina tidak lagi sekuat dulu. Melihat rambut putih, baru sedar yang diri ini sudah tua, sudah berusia 40, 50 tahun atau hampir senja dan gigi pun hampir nak gugur. Sebenarnya kita langsung tidak merenung bagaimana hari demi hari itu berlalu pergi!. Lebih bermasalah lagi, apabila masih banyak hal yang belum kita siapkan dan masih banyak mimpi yang belum diraih. Kita bahkan belum lagi menjalani hidup yang sebetulnya, lantas masa itu akan pergi begitu saja buat selama-lamanya. Bukankah ini sangat mengerikan?.

Baru-baru ini dalam sebuah akhbar saya terbaca satu cerita dan ini petikan yang saya ambil : "Awalnya, saya ingin masuk ke maktab perguruan tinggi kemudian ingin rasanya segera menyelesaikan kuliah agar dapat bekerja. Berikutnya, saya ingin menikah, dan ingin sekali memiliki anak, lalu saya sangat berharap anak-anak saya akan cepat dewasa dan bersekolah, agar saya boleh kembali bekerja. Selanjutnya, tiap hari saya merenung ingin sekali segera bersara. kini, saya benar-benar hampir akan mati". Tiba-tiba baru saya sedari, saya selalu lupa untuk menjalani hidup yang sepatutnya. Petikan ini sebenarnya sudah tergambar bahawa hamba Allah itu tadi menyesal dengan kehidupan dia yang dah pun berlalu.

Hidup semua orang boleh dikatakan agak sama iaitu sejak kecil ingin sekali segera menjadi dewasa, setelah dewasa menginginkan cinta lalu melangkah ke jinjang perkawinan dan mendapatkan anak, setelah memiliki anak lalu berharap mereka segera dewasa. Kemudian, cerita generasi sebelum ini kembali dimainkan lagi pada generasi berikutnya. Apakah perjalanan hidup ini hanya berupa serangkai penantian dan harapan, atau tidak berdaya?. Pasti masih ada yang berbeza!

Saudara-saudari yang tercinta, tidak peduli berapa usia kita pada saat ini, saya harap kita dapat mengingat atau meninjau kembali kehidupan sendiri. Apa saja yang telah kita buat sepanjang hidup ini?. Hal yang ingin kita kerjakan apakah sudah kita lakukan?. Apakah kita pernah tersenyum atau tertawa?. Pernahkah kita merasa kebahagiaan yang sebenarnya?. Hidup sampai detik ini, apakah kita dapat rasakan ada sesuatu yang berkurangan dan jangan pula kita merasa menyesal di kemudian hari?.

Bertanyalah pada diri sendiri apabila saat hidup ini belum berakhir, apakah kita berharap diri kita akan hidup dengan baik tanpa ada penyesalan?. Ada seorang siswa menceritakan sepotong kisah dirinya. Itu adalah peristiwa yang terjadi pada musim sejuk tahun lalu, ayahnya terburu-buru hendak ke luar negeri, dan dia juga tergesa-gesa untuk pergi bertemu dengan temannya, dan dengan terburu-buru juga dia mengucapkan sampai bertemu lagi kepada ayahnya. Dia tidak tahu ternyata ini adalah perpisahan terakhir mereka, sebab sejak itu mereka tidak pernah berjumpa lagi. Kematian si ayah, membuatnya sangat sedih dan menyesal, dengan sayu dia berkata: "kini, semuanya sudah terlambat."

Kisah seperti ini sebenarnya masih berulang dan berulang lagi. Ramai di antara kita yang kerap merasa "terlambat", dan ada yang baru sedar masih banyak yang belum dikerjakan, banyak kata-kata yang belum sempat diutarakan. Sesungguhnya, ini adalah penyesalan terbesar dalam kehidupan. Setiap hari terpampang di dada-dada akhbar dan juga di tv akan terjadinya kisah-kisah yang menyayat hati seperti kemalangan jalanraya dan bencana. Setiap hari pasti ada berita tentang kematian. Ada Tsunami di pantai selatan Jawa, ada peledakan bom di India, angin tufan di China dan sebagainya. Mohon untuk bertanya dengan orang-orang yang pernah menghadapi bencana ini, sebelum meningalkan rumah di pagi hari pernahkah terlintas dalam benak mereka akan bencana yang akan datang?. Sudah pasti jawapannya tidak. Oleh itu kesimpulannya hidup ini tidak menentu dan kita tidak akan tahu atau meramal masa depan.

Persoalan lain yang ingin diutarakan, apakah kita pernah merenung akan kehidupan kita selama ini?. Bagaimana kita menjalani hidup selama beberapa tahun kebelakangan ini?. Setiap hari kita akan tergesa-gesa, berangkat pagi pulang malam, hanya untuk memperoleh wang yang banyak, mendapat kedudukan yang lebih tinggi, berusaha mengejar kejayaan di mata duniawi, mengejar kenikmatan yang menggoda manusia, lantas setelah itu kita tetap tidak akan bahagia kerana nafsu telah merosakkan diri kita.

Jangan sampai dah terlambat, masa itu kita tidak bersedia untuk pergi (mati). Hidup tidak ada gladiresik atau pertunjukkan yang boleh dicuba.

0 comments: